Perspektif Kepemimpinan Budaya Bali


Dokumentasi : Pribadi


 thelaurasthoughts-- Dalam perspektif Bali mengenai kepemimpinan, raja-raja berfilosofi pada masa itu memiliki sumber-sumber teks yang sangat kuat yang memiliki akar pada Weda itu sendiri. Disatu sisi Simpretisme dan Akulturasi antara bagaimana kita melihat perkembangan dari pemikiran yang ada di Jawa dan Bali dan pengaruhnya dengan percakapan budaya dari berbagai wilayah termasuk India, dikarenakan adanya percakapan budaya dan percakapan ekonomi.


"Misalnya ada dua teks yang bisa saya kutip pada gagasan filosofis yang berkembang di Bali termasuk itu yang pertama adalah Nitisastra karya Filsuf dari dinasti Maurya dari abad tiga sampai tujuh masehi yang menulis semacam kompendium, pikiran-pikiran bagimanakah seorang raja itu memimpin kerajaannya, "kata Dr.LG. Saraswati Putri Senin (20/05/24).

Selain Dr.LG.Saraswati Putri seorang Filsafat disikusi Serasehan Budaya dengan tema Kepemimpinan Berbasis Kebudayaan Jawa dan Bali yang dilaksanakan di Museum Makara Art Center UI ini juga dihadiri oleh Toni Junus, KH.M.Jadul Maulana dan Moderatornya Ayie Suminar.

Yayas atau Saraswati menjelaskan mengenai gagasan Nitisastra menjadi salah satu bacaan wajib para pemimpin yang memang bukan hanya ditradisi timur tapi tentu sampai sekarang teks karya Nitisastra 
sudah banyak dibaca oleh penduduk dunia. Tapi yang menarik adalah gagasan pada Nitisastra ini menekankan pada sosok yang bukan saja hanya pemimpin politik tetapi juga memiliki empati dan rasa belas kasih dan juga memiliki kematangan spiritual. Jadi gagasan dalam bahasa sanksekertanya raja itu bukanlah satu kata raja saja tapi raja resi dan juga guru spiritual.

Begitu juga ada teks yang berpengaruh pada kepemimpinan di Bali yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Asta Brata yang sebenarnya diserap dari Kakawin Ramayana dan ini bersinggungan juga dengan Jawa. Dari Kakawin Ramayana ini bagimana aspek-aspek simbol delapan dewata yang mewakili sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin termasuk pemimpin yang tidak saja interlektual, kepandaian, kecakapan, tetapi juga punya belas kasih dan empati kepada warganya bisa memecahkan masalah warganya dan memikul lebih banyak kewajiban dari pada memikirkan hak-hak pribadi dan dapat menjadi teladan.


Namun,  jika kita ingin menggali lebih dalam lagi, gagasan mengenai kepemimpinan dan masyarakat yang ada di Bali sampai kepada orisinalnya orang orang yang ada di Bali paling tidak di luar dapi pengaruh yang didapatkan dari pengaruh ajaran Weda itu sendiri sebenarnya masyarakat Bali itu sudah memiliki pandangan yang sangat unik tentang kepemimpinan dan organisasi sosial yang ada dimasyarakat.

Yayas menuturkan bahwa satu hal yang dapat ia ceritakan adalah struktur Subak yang lamanya mencapai 1000 tahun yang tidak saja berurusan dengan dimana air dikelola untuk mengairi sawah tetapi juga bagaimana Subak itu membentuk masyarakat dan juga memperkuat relasi baik itu raja dan warganya. Apa yang bisa dipelajari tentang Subak adalah dari ribuan tahun lamanya air dipandang suatu sumber kehidupan yang di depan air itu dianggap setara.

Selain mengenai Subak yang rasanya di luar daripada ajaran atau tidak memiliki akar yang kuat pada budaya Bali seperti Trihitakaranga yang sudah disebutkan bahwa tiga sumber kebahagiaan yaitu keseimbangan atau kesesuaian sesama manusia, sesama lingkungan hidup. Kesimbangan ini menunjukkan bahwa sorang pemimpin harus memikirkan aspek-aspek ini. Untuk kebahagian tidak cukup hanya manusianya saja yang dirawat tapi juga lingkungan.

Seorang pemimpin tidak semestinya hanya memikirkan tentang individualitasnya tetapi juga harus mimikirkan selalu dan mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Jadi itu menjadi inspirasi bagaimana kita memakna dan menggali kembali dan menafsirkan kembali, merifilisasi gagasa-gagasan yang datang dari sumber budaya kita sendiri atau nilai-nilai lokal kita sendiri.

(LIDG)

Posting Komentar

0 Komentar