Ilustrasi Perempuan Depresi
thelaurasthoughts--“Cita-citamu apa, Git? Rencanamu mau sekolah di mana? Jangan ditunda-tunda menentukan cita-cita,” ucap Ibu, sambil menyiapkan makan malam.
Pertanyaan itu membuatku terdiam lama. Sebenarnya aku sudah sering mendengarnya, tapi kali ini rasanya berbeda. Aku sedang berada di titik paling gamang, tidak tahu harus melakukan apa, tidak tahu ingin jadi apa, bahkan merasa tak ingin melakukan apa-apa. Rasanya semua akan sia-sia.
Hilangnya Arah dan Keyakinan Diri
Di usia remajaku, menentukan masa depan justru menjadi hal paling menakutkan. Bukannya penuh semangat, aku malah merasa kosong. Aku sadar aku tidak punya motivasi. Hari-hari berjalan seperti biasa, tapi aku tetap terjebak di kepala dan pikiranku sendiri.
“Nggak ada hal yang ingin kulakukan. Haruskah kuliah? Aku takut. Aku sering gagal. Nanti gimana kalau aku nggak sanggup di sana?”
Ketakutan, keraguan, dan rasa rendah diri seperti berkecamuk tak berkesudahan. Aku ingin menyerah. Aku ingin diam. Tapi dunia terus bertanya, terus menuntut.
Menghindar Bukan Jawaban
Suatu malam, saat kumpul keluarga, pertanyaan yang paling kuhindari akhirnya datang juga.
“Mau jadi apa nanti, Git?” tanya tanteku.
“Kita lihat aja nanti, Tante,” jawabku sambil tersenyum kecil.
Tapi senyumku palsu. Di dalam kepala, pertanyaan itu seperti suara bising lalu lintas yang tak kunjung reda. Aku merasa dikepung semua orang dan akhirnya memilih strategi lama, menghindar.
Momen Kecil yang Mengubah Segalanya
Namun, sore itu, aku melihat sesuatu yang menyentuh hatiku. Ayahku baru pulang kerja setelah seminggu penuh di luar kota. Baju kerjanya lusuh, sepatunya penuh lumpur. Ia tersenyum kecil saat aku membawakan air minum.
Beberapa langkah ke dapur, kulihat Ibu sedang menelepon abangku yang sedang stres karena skripsi. Suaranya lembut, sabar, menguatkan. Di tengah kesibukannya mengurus rumah, Ibu tetap hadir buat semua anak-anaknya.
Saat itu aku terpaku.
Aku sadar aku tidak punya hak untuk tidak punya tujuan.
Ayahku berjuang tanpa banyak kata. Ibuku merawat dan menyemangati siapa pun yang menyerah. Kakakku mengejar impiannya, meski lelah. Dan aku? Aku malah diam dan takut mengambil satu langkah.
Menemukan Kekuatan yang Sempat Hilang
Sejak saat itu aku mulai berpikir ulang. Mungkin jalan yang kutempuh nanti bukan sepenuhnya mauku, mungkin ada bagian dari keinginan orangtua di dalamnya. Tapi jika langkah kecilku adalah bentuk balas budi dan cinta maka itu cukup menjadi alasan untuk berjalan.
Aku belajar bahwa motivasi tak selalu datang dari dalam. Kadang ia datang dari wajah lelah orang tuaku, dari suara lembut yang terus menguatkan, dari beban yang tak pernah mereka keluhkan. Dan justru di sanalah aku belajar tentang bagaimana dewasa dalam memilih langkahku ke depannya. Mengenali rasa takut, mengelolanya, dan memilih tetap melangkah meski belum yakin sepenuhnya.
Aku Melangkah, Meski Tak Sepenuhnya Yakin
Aku tidak langsung berubah seketika. Masih ada hari-hari ketika aku kembali ragu, ketika suara-suara di kepalaku menjadi terlalu ribut lagi. Tapi kini aku punya satu hal yang dulu tidak kumiliki yaitu kesadaran bahwa aku tidak sendiri. Ada orang-orang yang percaya padaku, bahkan ketika aku belum percaya pada diriku sendiri.
Jalan ini memang bukan sepenuhnya mauku. Tapi di jalan ini aku belajar menjadi seseorang yang mau mencoba. Aku belajar bahwa kekuatan tidak selalu datang dari dalam, kadang ia lahir dari cinta dan pengorbanan orang-orang yang diam-diam terus mendorongku maju.
(Laura Inggrit D.G)
0 Komentar