Dokumentasi : Pribadi
Bagi aku, buku ini meninggalkan pesan yang begitu kuat. Masa muda adalah puncak kejayaan dalam hidup, masa yang harus dirayakan karena kita tak pernah tahu kapan semuanya bisa direnggut tanpa izin siapa pun.
Itulah yang terlintas di benakku ketika menelusuri perjalanan cerita ini. Kisah tentang Yogas, seorang pemuda dengan penyakit HIV yang di usia belianya harus mengonsumsi obat setiap hari—meski obat itu belum tentu menyembuhkannya. Harapan yang pupus dan tubuh yang semakin rapuh membuat Yogas terperangkap dalam amarah. Ia memilih meninggalkan rumah demi sebuah dendam.
Hingga akhirnya, jalan mempertemukannya dengan Kana—seorang penulis novel best seller yang hidup seorang diri di rumah kos keluarganya. Yogas dan Kana dipertemukan di bawah satu atap. Meski Yogas awalnya menolak berinteraksi, takdir seakan menuntun mereka untuk saling hadir dalam hidup masing-masing.
Hubungan keduanya digambarkan begitu natural, seolah-olah nyata. Amarah Yogas yang membara, sikapnya yang sok dan keras kepala, hingga kejengkelan Kana yang akhirnya berubah menjadi perasaan lain—semuanya terasa hidup. Kana terus mengejar mimpinya, sementara Yogas masih terikat amarah dan pencarian jawaban atas masa lalunya.
Hingga puncaknya, Yogas bertemu dengan sahabat lamanya—orang yang menjadi sumber dendamnya. Pertemuan itu hampir berakhir tragis, jika saja Kana tidak hadir. Dari sahabatnya, terungkap masa lalu yang menyakitkan: dipaksa dan dibully hingga tega menyuntikkan sesuatu ke tubuh Yogas.
Namun cinta Kana menahan Yogas dari kehancuran yang lebih dalam. Ia membuktikan bahwa kasih sayang bisa meredakan amarah yang paling pekat sekalipun. Meski pada akhirnya Yogas harus berpulang lebih dulu, cinta mereka tetap abadi, meninggalkan jejak yang tak pernah mati.
Sebagai pembaca, aku tidak pernah menyangka konflik dalam cerita ini akan sebesar dan seberat itu, apalagi dibungkus dalam tema masa muda yang penuh mimpi. Aku mengapresiasi penulis yang mampu menghadirkan emosi setiap tokoh dengan begitu nyata.
Bagi aku, buku ini bukan sekadar kisah cinta, melainkan pengingat bahwa hidup—betapa pun singkat dan rapuh—selalu layak dijalani dengan penuh keberanian. Yogas dan Kana mengajarkanku bahwa kehilangan tidak menghapus arti cinta, justru menegaskan bahwa keabadian kadang hadir bukan dalam panjangnya waktu, melainkan dalam kedalaman rasa.
(LIDG)

0 Komentar