Foto: Freepik
Saat hidup terlihat berjalan dengan baik, di situlah sebenarnya aku harus bersiap untuk melewati rintangan sulit lainnya. Hidup hanya berjalan baik sementara, seakan memberi jeda agar kita punya waktu bersiap. Itulah yang kurasakan saat menginjak usia remaja. Aku mulai kehilangan satu per satu anggota keluargaku karena Tuhan memanggil mereka kembali.
Tak ada yang salah dengan panggilan Tuhan, karena memang sudah takdir setiap manusia untuk kembali pada-Nya. Di saat aku menjadi murid SMP tingkat akhir, aku dan keluarga mendapat kabar bahwa bibiku mengidap kanker lambung stadium akhir. Penyakit bisa datang kepada siapa saja, tapi kenapa harus datang saat harapan sudah begitu tipis?
Apa lagi ini, Tuhan? Kami semua terkejut. Selama ini, bibi terlihat sehat-sehat saja—tak pernah mengeluh sakit. Dia seorang perawat, tentu tahu jika ada yang tak beres dengan tubuhnya. Entah apa alasannya, mungkin dia memang tahu tapi tak mau memberi tahu. Mungkin juga penyakit itu tak bisa disembunyikan lagi, akhirnya ketahuan, dan kami semua jadi tahu. Itu hanya dugaanku, karena tidak pernah terungkap secara pasti. Aku hanya bisa menebak-nebak.
Keluarga kami tentu shock dan sedih, lalu mulai memikirkan segala kemungkinan demi kesembuhan bibi. Salah satu hal yang bisa kami lakukan adalah membiarkan mama yang merawat bibi di rumah sakit selama proses kemoterapi. Aku? Aku harus ditinggal sendiri di rumah. Kakak dan abang kuliah di luar kota, bapak juga bekerja di luar kota. Aku sempat ditawari tinggal di rumah saudara, tapi aku menolak. Aku merasa lebih leluasa di rumah sendiri.
Akhirnya, aku benar-benar tinggal sendiri. Aku jarang bisa berkomunikasi dengan mama karena tak punya HP. Setiap pulang sekolah, aku sering mampir ke rumah tetangga untuk menonton TV dan kadang ikut makan. Tak jarang aku bingung harus makan apa karena uang sangat terbatas, dan aku hanya bisa memasak makanan-makanan sederhana. Sekolah juga menguras waktu karena pulang sore. Hantaman hidup terasa datang dua kali lipat, tapi aku tetap bertahan. Aku kesepian. Rumah itu hanya berisi aku seorang.
Sesekali, aku mendengar kabar tentang kondisi bibi. Badannya semakin lemah, rambutnya mulai rontok. Jika ada kesempatan bicara, aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku tak sanggup melihatnya selemah itu. Aku tak pernah melihatnya begitu sebelumnya.
Berbagai obat telah dicoba baik herbal maupun medis. Tapi sel kanker di tubuh bibi tak kunjung berhenti. Meski begitu, semua keluarga mengakui bahwa bibi sangat kuat melawan penyakitnya. Kami berada di titik terendah. Secara ekonomi pun kami nyaris tumbang. Mama harus bolak-balik ke luar kota, sementara biaya kuliah abang dan kakak terus berjalan. Tenaga dan uang hampir habis. Tapi, tetap ada tenaga tersisa—aku percaya itu dari Tuhan. Walaupun kami merasa tak punya apa-apa, selalu ada saja berkat yang datang. Bukti bahwa Tuhan masih menolong kami.
Hingga suatu sore, aku sedang berada di rumah tetangga. Telepon berdering. Mama menelepon lewat HP tetanggaku.
“Git, susun bajumu cepat. Nanti sore Bapak pulang, kalian langsung berangkat ke Rumah Sakit Colombia Medan,” kata mama.
“Kenapa, Ma? Ngapain ke sana? Aku kan belum libur. Memang kabut asap lagi parah di Duri, tapi... kenapa sih?” tanyaku panik.
“Iya, Bibi udah nggak tahan lagi. Cepatlah kalian datang.”
Aku menangis. Tak ada yang bisa kulakukan. Dunia terasa runtuh saat itu juga.
Setelah berbagai upaya untuk kesembuhan, ribuan doa dipanjatkan, dan banyak orang menjenguk, kondisi bibi tetap melemah. Aku yang pikirannya sudah kacau, mulai menyusun baju. Entah baju apa yang kupilih, aku tak peduli. Tetanggaku menenangkanku dan membantuku menyiapkan barang-barang yang perlu kubawa.
Beberapa jam kemudian, Bapak tiba di rumah. Wajahnya terlihat kalut, tak banyak yang bisa dibicarakan. Kami segera berangkat. Perjalanan memakan waktu sekitar 12 jam. Di dalam mobil, kami hanya bisa berdoa, berharap tiba dengan selamat.
Sesampainya di rumah sakit, kami berbondong-bondong masuk ke ruang HDU. Kami melihat bibi. Dia masih sadar dan mengenali kami, tapi sudah terengah-engah saat berbicara. Tekanan darahnya terus menurun. Aku tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa berdiri mengamati. Bayangan anak-anak bibi yang masih kecil menghantui pikiranku. Mereka bahkan tak bisa mengunjungi mamanya.
Selama kami di sana, kondisi bibi tak banyak berubah. Tapi, aku melihat dia senang karena tidak lagi sendirian. Kami bergantian menjaganya. Bibiku malang... bahkan sudah tak bisa makan lagi karena cairan memenuhi tubuhnya. Secara medis, ia masih hidup hanya karena alat bantu. Aku tahu ke mana arah semuanya, tapi kami tetap berharap—berharap Tuhan memberikan sedikit keajaiban.
Kami tinggal seminggu di rumah sakit. Tidur di sana, makan pun di sana. Tak sempat mandi, hanya bisa mengelap badan. Setiap hari, kami hanya duduk dan menemaninya. Tapi hidup harus berjalan. Aku harus kembali ke sekolah, Bapak juga harus kembali bekerja.
Malam hari, tepat satu minggu kami di sana, kami memutuskan pulang tanpa berpamitan pada bibi. Kami takut membuatnya sedih. Dalam perjalanan pulang yang panjang, aku merasa bersalah. Tapi kami tak punya pilihan.
Setelah enam jam di jalan, kami singgah di rumah saudara di Rantau Prapat untuk beristirahat. Pagi harinya, saat bersiap melanjutkan perjalanan, salah satu HP berdering. Aku yang mengangkatnya.
“Halo... kenapa? HAH!!!” aku terkejut dan langsung menangis.
Keluarga langsung menghampiriku.
“Kenapa?” tanya mereka.
“Bibi... sudah nggak ada...” jawabku sambil terisak.
Tangis pecah. Kami bingung harus bagaimana. Kami segera menghubungi semua keluarga, dan memutuskan untuk berbalik arah. Kami pulang, untuk bertemu bibi... dalam keadaan yang tak lagi kuat berdiri.

0 Komentar