Hari pertama mendaftar sekolah menengah menjadi awal cerita penuh warna dalam perjalanan hidupku. Awalnya aku ingin bersekolah di SMP Negeri 4 Mandau yang cukup terkenal. Namun, jaraknya sekitar 5–6 km dari rumah, dan persyaratan masuk melalui jalur zonasi, prestasi, maupun pindahan membuatku ragu. Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku dan orang tuaku akhirnya memilih mendaftar ke SMP Negeri 2 Mandau.
Perjuangan itu tidak mudah. Meskipun nilai raportku memadai, aku tidak lolos karena salah memilih jalur pendaftaran. Kesedihan menyelimutiku, namun orang tuaku tidak berhenti mencari jalan. Beberapa sekolah kami datangi, hingga akhirnya melalui jalur UPTD Dinas Pendidikan aku diterima di SMP Negeri 2 Mandau. Saat pengumuman itu keluar, aku merasa lega sekaligus bersyukur. Semua usaha yang melelahkan akhirnya terbayar.
Hari pertama masuk sekolah justru menghadirkan tantangan baru. Aku tidak mengenal siapa pun, sering tersesat di lingkungan sekolah yang luas, bahkan mengalami culture shock karena metode pembelajaran terasa lebih sulit dari yang pernah aku alami di SD. Bahasa Inggris, misalnya, membuatku malu ketika harus keluar kelas karena tidak bisa membaca jam dalam bahasa itu. Matematika pun terus-menerus membuatku remedial. Ditambah lagi, banyak teman sebayaku yang sudah terbiasa merokok dan berbicara kasar, sesuatu yang benar-benar asing bagiku.
Namun perlahan, aku belajar menyesuaikan diri. Aku mulai menemukan teman-teman baik yang mendukungku, mengajakku belajar, dan menciptakan suasana kelas yang semakin ceria. Aku juga mencoba menyalurkan minatku dengan bergabung dalam organisasi sekolah. Awalnya marching band menjadi pilihanku, tetapi kemudian aku memutuskan bergabung dengan paduan suara karena lebih menyukai bernyanyi.
Di antara hari-hari SMP yang penuh warna, ada pula cerita perasaan yang sulit kulupakan. Awalnya aku menyukai seorang teman sekelasku, tetapi tak berani mengungkapkannya. Lama-kelamaan, aku justru lebih dekat dengan temannya. Ia sering menjahiliku, membantu membawakan tasku, bahkan menungguku di area parkiran motor. Semua itu membuat hari-hariku semakin menyenangkan. Namun, perasaan itu terhenti ketika mantan dari temanku itu—yang juga sekelasku—meminta agar aku tidak dekat dengannya. Aku memilih menahan diri demi menghargai perasaan orang lain.
Meski begitu, momen-momen kecil bersamanya tetap meninggalkan kesan manis. Aku masih ingat saat ia ketahuan mencuri pandang di kolam renang, atau ketika matanya tak lepas menatapku dari angkot. Semua itu menjadi potongan kenangan yang indah. Tetapi aku juga menyadari keterbatasan: perbedaan keyakinan, serta fakta bahwa suatu saat semua harus berakhir.
Pandemi Covid-19 datang menjelang ujian akhir, menghentikan pertemuan kami. Setelah lulus, aku baru tahu bahwa ia pindah ke Padang. Meski berat, aku belajar menerima kenyataan. Bagiku, semua pengalaman itu—dari perjuangan masuk sekolah, kesulitan beradaptasi, hingga kisah pertemanan dan rasa suka—adalah bagian berharga dalam hidupku.
Aku percaya, masa SMP telah mengajarkanku arti ketekunan, keberanian, serta bagaimana menjaga diri dalam pergaulan. Kenangan mungkin tidak bisa diulang, tetapi bisa selalu dikenang. Dan dari sanalah aku belajar, bahwa setiap fase hidup, seberat atau sesulit apa pun, pasti akan meninggalkan pelajaran yang indah pada akhirnya.
(LIDG)
(LIDG)

0 Komentar