Foto: Freepik
thelaurasthought--Di ruang tunggu Poliklinik BPJS, deretan kursi plastik nyaris tak pernah kosong. Orang-orang dengan wajah pucat, tubuh lemah, atau sekadar ekspresi penuh kecemasan, datang silih berganti. Bau obat dan cairan pembersih bercampur dengan suara panggilan nomor antrean yang terdengar monoton. Di balik itu semua, ada seorang perawat yang bergerak lincah, mondar-mandir dari satu pasien ke pasien lain. Seragam putihnya mulai basah oleh keringat, namun langkahnya tetap teratur.
Dialah seorang perempuan yang kesehariannya dihabiskan di rumah sakit Jakarta Utara. Setiap hari, ia merawat, mendengarkan keluhan, sekaligus mencoba menenangkan hati pasien yang datang dengan harapan akan kesembuhan.
“Kadang saya merasa hidup saya hanya berputar di rumah sakit ini,” tuturnya lirih. “Bangun pagi, berangkat dinas, pulang dalam keadaan lelah. Begitu seterusnya.”
Kelelahan itu tak sekadar soal fisik. Ia pernah sampai pada titik di mana mentalnya runtuh. Setiap tatapan pasien seolah menuntut tanggung jawab besar. Ia menghadapi begitu banyak jiwa manusia, dan hampir semuanya datang dengan cerita getir, terutama pasien yang berobat menggunakan BPJS.
Ada kalanya ia ingin menyerah, apalagi ketika sakit kepala tak kunjung hilang, mood mendadak turun, atau ketika dirinya menyadari ada banyak pekerjaan rumah dan pekerjaan bulanan di kantor yang akhirnya ia tunda. “Seakan saya tak punya ruang untuk diri sendiri,” ucapnya.
Namun, dalam kelelahan itu, ada alasan sederhana yang membuatnya tetap berdiri: keluarga. Orangtuanya selalu menjadi sumber energi yang tak habis. “Mereka sering bilang, ‘kamu kuat, kamu bisa.’ Dari situ saya belajar bertahan,” katanya dengan senyum tipis.
Mimpi yang Membawa Harapan
Meski terkadang muncul pertanyaan getir—“Sampai kapan saya seperti ini? Apa bisa memutar waktu agar saya tidak bekerja seperti ini?”—ia tetap menaruh harapan pada masa depan. Mimpinya sederhana, namun penuh arti: sukses sebagai seorang perawat, dan suatu saat menjadi ASN. Bukan hanya demi dirinya, tapi juga demi orangtua yang selalu mendoakan.
“Kalau saya capek, kadang saya bilang ke diri sendiri, sabar dulu. Mudah-mudahan ada waktu terbaik untuk berubah,” ujarnya.
Bagi dirinya, berhenti berarti berhenti dalam segala hal—sebuah titik henti total. Dan itu bukan pilihan. Ia hanya butuh beristirahat sejenak, memberi ruang untuk bernapas sebelum kembali terjun dalam kesibukan.
Orang-orang mungkin tak selalu mengerti rasa lelah yang ia simpan. “Tapi kalau orang melihat wajah saya, mungkin mereka tahu saya sedang capek,” ucapnya. Meski begitu, ia tetap memilih menunjukkan sisi kuat, karena tahu banyak orang berharap kepadanya.
Langkah yang Terus Dilanjutkan
Ada satu hal penting yang ia pelajari dari semua ini: bahwa pekerjaannya bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan menyelamatkan nyawa manusia. “Itu alasan saya mesti melangkah terus, meskipun lelah,” katanya tegas.
Dan di balik semua keluh kesah, ia tak lupa untuk bersyukur. Bersyukur atas profesi yang ia jalani, atas kesempatan melayani sesama, dan atas keluarga yang selalu menjadi alasan untuk tidak berhenti.
Ia menutup refleksinya dengan kalimat sederhana, namun penuh makna: “Saya lelah, tapi saya tidak mau berhenti.”

0 Komentar